Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label HUT GURU nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUT GURU nasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2020

Praktik Kesetaraan Gender Wujud Nyata Perlawanan Kekerasan Berbasis Gender Wujudkan Generasi Pelajar Pancasila

 

Mengikuti Webinar Cerdas Berkarakter, agar bisa menerapkan nilai-nilai karakter terhadap anak-anak di rumah dan di sekolah menangkal perundungan dan kekerasan berbasis gender

Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, begitulah biasa kita memanggil beliau, telah mempersiapkan, bahkan membeberkan isi Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 pada rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, tanggal 2 Juli 2020 yang lalu.

Arah dari peta jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 jelas untuk membangun Pelajar Pancasila yang memiliki profil beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong-royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri. Apalagi disaat pandemi seperti ini, mewujudkan generasi muda yang cerdas berkarakter menuju Indonesia Maju adalah harapan dan usaha kita bersama dengan kolaborasi antara Orangtua, Peserta didik dan Pendidik, serta seluruh stakeholder yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tentunya.

Harapan Mas Menteri tentunya harapan kita bersama dalam mewujudkan generasi muda bangsa Indonesia yang cerdas dan berkarakter. Salah satu upaya Mas Menteri dalam mewujudkan Pelajar Pancasila yang Cerdas Berkarakter tentunya dengan menggalakkan Pelajar Pancasila.

Dalam Seminar Virtual Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Penguatan Karakter melalui Zoom Meeting, dengan tema _“Generasi Cerdas Berkarakter, Indonesia Maju Bermartabat_”, yang berlangsung Kamis, 10 Desember 2020 yang merupakan rangkaian dari acara Pekan Untuk Sahabat Karakter (PUSAKA) Tahun 2020.

Seminar tersebut dibagi dalam tiga kategori dan sesi. Sesi pertama diperuntukkan untuk 1000 peserta Guru, Tenaga Kependidikan, Dosen, dan Pelaku Budaya, dimulai pada pukul 09.00 s.d. 11.00. Dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, (Ainun Na’im), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, (Muhadjir Effendy) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Nadiem Anwar Makarim). 

Agar terwujud Pendidikan di Masa Pandemi, Harus tetap semangat dengan mematuhi protokol kesehatan dalam sosialisasi Ujian AKM

 

Dalam sambutannya, Mas Menteri Nadiem Makarim memaparkan bahwa sebagai pemuda Pancasila, pelajar Indonesia harus memiliki kemampuan gotong royong  yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan bersama-sama dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan mudah, lancar dan ringan. Kuncinya yaitu diperlukan adanya kolaborasi, sifat kepedulian, dan berbagi.

Lantas, bagaimana caranya agar harapan menjadi Pemuda dan Pemudi Pancasila dengan karakter cerdas tersebut dapat terwujud? Bukan rahasia umum lagi bahwa negeri kita memilik seabrek persoalan Pendidikan, mulai dari hasil skor PISA yang terus stagnan di peringkat terendah dalam 15 tahun terakhir ini, hingga munculnya fakta tren dan permasalahan hasil belajar di tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Ternyata masalah pendidikan kita yang paling utama masih masalah perundungan dan kesetaraan gender, dimana hasil penelitian dalam kurun waktu dari tahun 2000 hingga 2018 yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) atau Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan menyatakan bahwa 41% siswa di sekolah kita mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Dan siswa yang mengalami perundungan itu dinyatakan memiliki skor 21 poin lebih lebih rendah dalam hal literasi, merasa sedih, ketakutan, dan kurang puas dengan keadaan hidupnya, dan juga memiliki kecenderungan untuk bolos sekolah.

Dan peran Guru sangat penting untuk menghalau perundungan yang terjadi di sekolah. Menurut saya dan yang selalu saya lakukan adalah menyemangati siswa setiap saya masuk kelas agar tidak mencoba-coba melakukan perundungan, bulying apalagi mendiskriminasi siswa yang beda gender, karena itu sangat berbahaya dan merugikan. Pengalaman adalah Guru yang paling berharga dan dalam menghadapi perundungan, apalagi kekerasan berbasis gender, saya sebagai Guru dan Wali Kelas, selalu memperhatikan dan peka terhadap keadaan kelas dan harus mengetahui latar belakang para siswa di kelas tersebut, khususnya bagaimana lingkungan sekitar dan pergaulannya di luar sekolah.

Sebab, masalah kesetaraan gender dan bulying terjadi di sekolah karena faktor lingkungan di sekitar kita juga di lingkungan keluarga, dimana orang tua masih berpikiran kolot yang tidak memberikan hak yang sama kepada anak laki-laki dan perempuan. Sudah saatnya orang tua memberikan ruang yang sama untuk anak lelaki dan anak perempuan, terutama dalam hak mendapatkan pendidikan dan mengejar cita-cita.

Anak-anak harus mendapatkan kesetaraan gender dan sudah saatnya kita melakukan perlakuan hak yang sama sehingga tujuan dari Emansipasi Wanita dan Pelajar Pancasila Terwujud

 

Perundungan terjadi biasanya kepada anak perempuan, karena anak perempuan itu dianggap lemah dan derajatnya lebih rendah dari anak laki-laki. Padahal perjuangan besar Raden Ajeng Kartini yang berjuang untuk kesetaraan gender harus benar-benar kita wujudkan di era teknologi 4.0 ini. Kolaborasi orang tua dan Guru untuk terus memperjuangkan kesetaraan gender dan menghapus perundungan dengan bersama-sama mewujudkan Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa demi mewujudkan Pelajar Pancasila yang memiliki enam ciri utama, yaitu: Bernalar Kritis, Kreatif, Mandiri, Beriman, Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, Bergotong Royong, serta Berwawasan Sosial.

Sebab, pastinya pendidikan itu awalnya dari Perempuan atau Ibu yang mendidik kita, sehingga elemen-elemen yang membentuk Pelajar Pancasila harus ditumbuhkan sejak dini melalui pendidikan karakter mulai jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Semoga nasehat dari Ibu Kartini yang pernah berkata seperti ini, “Dari kaum perempuanlah manusia itu pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan perempuanlah seseorang mulai belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata”, menjadi renungan bagi kita agar kita bisa menjadi pribadi-pribadi yang tidak melakukan perundungan dan penghalau kekerasan berbasis gender.

#CerdasBerkarakter #BlogBerkarakter #AksiNyataKita #LawanKekerasanBerbasisGender #BantuKorbanKekerasan

Selasa, 27 Oktober 2020

Pembelajaran Berbasis Proyek Dengan Microsoft Teams Agar Pembelajaran Daring Tidak Membosankan


Logo PGRI, Organisasi Guru Indonesia

Pembelajaran berbasis proyek (PBP) merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas peserta didik untuk memecahkan masalah dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.

Strategi  ini memperkenankan pesera didik untuk bekerja secara mandiri maupun berkelompok dalam mengkostruksikan produk otentik yang bersumber dari masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis proyek (PBP) merupakan strategi pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman nyata. PBP dilakukan secara sistematik yang mengikutsertakan peserta didik dalam pembelajaran sikap, pengetahuan dan keterampilan  melalui investigasi dalam perancangan produk. PBP merupakan strategi pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek memberi kesempatan peserta didik berpikir kritis dan mampu mengembangkan kreativitasnya melalui pengembangan inisiatif  untuk menghasilkan produk nyata berupa barang atau jasa.

Dalam masa sulit seperti ini setelah pandemi global bernama Covid-19 menyerang 216 negara di dunia, termasuk Indonesia, memaksa dunia pendidikan kita berubah dalam hal kegiatan pembelajaran. Dimana, kita sekarang lebih menekankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan menekankan pengertian orangtua untuk lebih kolaboratif dan bersinergi dengan guru untuk membimbing dan mendampingi anak selama terjadinya PJJ. Tidak dapat dipungkiri lagi kunci vital pendidikan saat ini ada pada sarana TIK dan kemauan serta kesadaran tinggi dari peserta didik untuk mau belajar dan mengembangkan diri dan kemampuan mereka di saat pandemi ini.

Pengalaman saya sebagai guru dan orangtua selama melaksanakan pembelajaran jarak jauh, pastinya harus bisa membagi waktu antara memberikan pembelajaran kepada peserta didik dan kepada anak-anak di rumah. Ketika pandemi pertama kali menyerang sehingga pembelajaran harus dilakukan dari rumah, maka proses kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan memanfaatkan WhatsApp Group dan Google Classroom, namun di tahun ajaran baru ini, Sekolah memutuskan untuk memanfaatkan Microsoft Teams saat kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dari rumah saja. 

Gambar Desain Poster yang akan ditugaskan kepada peserta didik sebagai contoh Project Based Learning di masa PJJ ini

 

Mengapa harus Microsoft Teams? Karena menu yang disediakan cukup mudah dipelajari dan dapat menyediakan ruang kelas daring yang menyatukan koneksi tatap muka virtual, keamanan data, mampu membuat kuis dan tugas, meeting atau tatap muka, percakapan dan daftar hadir siswa serta menayangkan bahan ajar yang telah kita buat di Microsoft Power Point, atau siswa berkolaborasi membuat bahan ajar, hingga percakapan yang kesemuanya itu disatukan dalam wadah yang dapat diakses melalui telepon genggam atau telepon pintar (smartphone), tablet, laptop, PC, ataupun browser. Pemilihan aplikasi Microsoft Teams ini sangat tepat untuk melakukan Kelas Maya, dimana Guru mampu membuat kelas sendiri dan mengundang siswa untuk masuk ke kelas dengan menggunakan kode dan Guru Mata Pelajaran lain juga bisa masuk ke Kelas Maya yang kita buat.

Lantas dengan memanfaatkan Microsoft Teams ini, bagaimana caranya agar pembelajaran jarak jauh selama pandemi bisa menyenangkan dan tidak membosankan? Maka jalan terbaik adalah dengan membuat pembelajaran semakin menarik memanfaatkan Pembelajaran Berbasis Proyek seperti saya jelaskan di awal tulisan ini. 

Gambar tampilan Microsoft Teams, PJJ selama pandemi

 

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan suatu proyek dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh siswa dapat berupa perseorangan atau kelompok dan dilaksanakan peserta didik dalam waktu tertentu secara berkolaboratif menghasilkan sebuah produk yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Pelaksanaan proyek dilakspeserta didikan secara kolaboratif dan inovatif, unik yang berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan denga kehidupan siswa.

Namun karena masa pandemi, dimana pembelajaran dilaksanakan dari rumah (Daring) dan harus menjaga jarak, maka proyek yang diberikan dikerjakan oleh peserta didik dari rumah, dibimbing oleh orangtua dan dipresentasikan secara daring juga ketika pertemuan dijadwalkan oleh guru.

Lantas proyek seperti apa yang diberikan oleh guru agar pembelajaran lebih menarik? Tentunya berhubungan dengan kondisi saat ini, guru harus lebih kreatif dalam memberikan tugas proyek kepada peserta didik sehingga peserta didik lebih tertantang untuk mencari tau dan meningkatkan pengetahuan mereka dalam hal pencegahan penyebaran Covid-19 yang selalu mengintai kita ketika keluar dari rumah. Guru hendaknya memberikan tugas proyek berhubungan dengan penyebaran Covid-19. Saya menekankan pada peningkatan peserta didik akan pengetahuan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan memberikan tugas proyek seperti mendesain poster pencegahan penyebaran Covid-19.

Tampilan Tugas di Ms. Teams, Pembelajaran Semakin menyenangkan dengan Project Based Learning

 

Ini sangat penting agar peserta didik sadar akan bahaya Covid-19 sehingga mereka tetap disiplin saat berada di luar rumah agar tetap mengingat dan taat untuk 3 M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak) sehingga karakter baik terbentuk saat pandemi seperti ini. Seperti pepatah mengatakan “Alah Bisa Karena Biasa”, artinya kebiasaan baik itu terbentuk karena sudah sering diingatkan dan dibiasakan, begitu juga agar membiasakan anak pakai masker keluar dari rumah, tetap menjaga jarak dan mencuci tangan sesering mungkin.

Sehingga jika kebiasaan ini sudah terbentuk, maka saat keadaan sudah dinyatakan normal oleh Pemerintah dan tatap muka sudah bisa berlangsung, maka kebiasaan baik ini juga tetap terpelihara, menjaga jarak dan memakai masker di sekolah maupun ditempat lain yang memang diperuntukkan untuk kawasan ramai, kita semua tetap pada protokol menjaga kesehatan agar tidak tertular oleh virus mematikan ini.

Demikianlah sekilas pembelajaran berbasis proyek memanfaatkan Microsoft Teams dalam melaksanakan kegiatan PJJ agar siswa tidak bosan dan pembelajaran lebih menarik dengan pembelajaran berbasis proyek sehingga peserta didik tetap memperoleh pembelajaran yang bermakna walau tidak secanggih tatap muka, namun setidaknya bermanfaat bagi peserta didik, diantaranya strategi pembelajaran tetap berfokus pada  peserta didik dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya.

Pelaksanaan PBP  dapat memberi peluang pada peserta didik untuk bekerja mengkonstruksi tugas yang diberikan guru yang puncaknya dapat menghasilkan produk karya peserta didik.

Manfaat selanjutnya : (a) Memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam pembelajaran, (b) Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah, (c) Membuat peserta didik lebih aktif dalam memecahkan masalah yang kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau jasa, (d) Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan tugas.

Salam Guru Penggerak Indonesia

Logo Kogtik, Komunitas Guru TIK dan KKPI


             Contoh Video Yang Akan dijadikan Project Based learning kepada Siswa

            Contoh Video Project Based Learning dari Siswa

            Video dari siswa hasil pembelajaran Project Based Learning

 

Jumat, 17 Januari 2014

SMANTILAS Tuan Rumah Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Se-Kota Medan



PLT Kota Medan Pak Dzulmi Eldin saat menjadi Inspektur Upacara


Pembacaan Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Saat Perayaan Hari GUru

Tanggal 25 November menjadi hari spesial bagi guru-guru di seluruh tanah air, hari Guru Nasional yang ke-20 dan HUT PGRI ke-68 tahun ini dipusatkan di SMA Negeri 13 Medan Jl. Brigjend Zein Hamid Km.7 Titi Kuning Medan. Menjadi Tuan Rumah dalam sebuah event besar menjadi tantangan yang harus dijawab dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kepala Sekolah, Drs. Ilyas, M.Pd. langsung menginstruksikan agar panitia Hari Guru yang telah dibentuk agar bekerja lebih serius, Wakasek Sarana dan Prasarana bekerja dengan cepat, mengerahkan tenaga kerja lebih banyak untuk mengecat sekolah, memperbaiki lapangan sekolah, para petugas upacara yang terdiri dari Pemimpin Upacara, Paskibra selaku pengibar bendera, Pembaca teks Undang-Undang Dasar 1945 berlatih lebih serius agar Upacara Hari Guru sukses dan berjalan dengan baik. Plt Walikota Medan yang dijabat oleh Bapak Drs. H. Dzulmi Eldin,S. M.Si. dan Plt Kadis Pendidikan Kota Medan yang dijabat oleh Ir. Syaiful Bahri beserta undangan tiba di SMA Negeri 13 Medan dan upacarapun berlangsung dengan khidmat dan baik. Selesai Upacara, Bapak Plt Walikota diberikan kesempatan untuk melihat dan mencoba website SMA Negeri 13 Medan, Absensi Flash dan melihat pameran pendidikan hasil karya peserta didik SMANTILAS. Acara berlangsung dengan meriah. Semoga tema “Mewujudkan Guru Kratif dan Inspiratif Dengan Menegakkan Kode Etik Untuk Penguatan Implementasi Kurikulum 2013” dapat diterapkan dengan baik, dan semoga Juara Adiwiyata dapat dipertahankan.

 
Blogger Templates