Social Icons

Pages

Senin, 29 Maret 2021

Aplikasi Pendidikan Lingkungan Hidup, Sadarkan Generasi Muda Miliki Tanggung Jawab Tangani Sampah Sendiri

 

Hasil Daur Ulang Sampah Organik, dimana SMA Negeri 13 Medan menghasilkan Kompos. Sampah Anorganik Banyak karya dari kain-kain bekas, plastik dan karton Dijadikan Karya Bagus. Sumber: Dokpri

Bagaimanapun pendidikan memiliki peranan sangat penting dalam mendukung upaya melestarikan lingkungan sekitar kita. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa lingkungan alam sekitar kita dan dunia saat ini sedang mengalami kerusakan dan salah satu penyebabnya dipastikan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga dan mengelola lingkungan hidup kita. Padahal, dari sekolah tingkat dasar hingga sekolah menengah dan kejuruan telah diterapkan Pendidikan Lingkungan Hidup dengan harapan terbangunnya populasi masyarakat Indonesia yang sadar dan peduli terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk bekerja sama, baik secara individu maupun kolektif, untuk dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan mencegah timbulnya masalah baru. (UNESCO,  Deklarasi Tbilisi, 1977)

Salah satu indikator suksesnya penerapan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah, dari tingkat dasar hingga menengah adalah kemampuan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, plus bisa membedakan dan memilah mana sampah organik – sampah yang bisa terurai atau bisa dijadikan kompos, seperti sisa makanan, dedaunan, sayuran, dan sebagainya. Lalu ada sampah anorganik – sampah yang sulit membusuk dan tidak bisa terurai, jika tidak dikelola dengan baik, maka jenis sampah ini bisa merusak lingkungan, ekosistem hewan dan manusia. 

Tempat Penampungan Sampah Di SMA Negeri 13 Medan. Siap Untuk Memilah dan Mengolah sampah Sendiri. Dokpri

 

Masih segar di ingatan kita bukan, ketika seekor Paus Sperma yang mati di Wakatobi dengan perut penuh dengan sampah plastik. Lalu beberapa saat kemudian, ditemukan juga Paus Sei yang sudah langka ditemukan dalam keadaan lemah karena tenggorokan tertutup plastik. Ini contoh kasus kecil bagaimana sampah plastik telah terakumulasi dengan cepat di lautan yang memancing lebih dari 200 spesies hewan memakan plastik, termasuk penyu, paus, anjing laut, burung dan ikan. Sementara analisis global tahun 2014 menyatakan bahwa plastik di laut sebanyak seperempat miliar metrik ton, berukuran partikel beras.

Jadi, jika dari sekarang kita tidak melakukan pengelolaan sampah yang baik dan mengakali pemanfaatan sampah anorganik, meliputi plastik, karton, logam, dan lain sebagainya, serta bisa mendaur ulangnya? Maka tidak heran apabila ramalan bahwa di tahun 2050 jumlah plastik di lautan akan lebih banyak dari jumlah spesies hewan di lautan akan terbukti.

Kenapa? Karena budaya nyampah yang masih membekas dan belum bisa dientaskan, walau Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) telah diterapkan, namun kenyataannya masih banyak masyarakat kita tidak sadar akan bahaya sampah dan masih tega membuang sampah sembarangan, walau disekitar kita sudah disediakan tempat-tempat sampah dan kita juga belum bisa memilah, mana sampah yang gampang diurai dan mana sampah yang tidak bisa diurai, namun butuh penanganan dan butuh kesadaran kita untuk bertanggungjawab terhadap sampah plastik yang kita gunakan dengan menerapkan Personal WasteManagement.

Tempat Penampungan sampah Organik dan Anorganik, Tempat Penampungan Sampah harus rapi dan bersih. Dokpri

 

Sangat miris ketika seorang ibu tega memberi makan seekor Kuda Nil di Taman Safari, Bogor dengan melempar sampah plastiknya. Sungguh tidak manusiawi ketika sampahnya dia lemparkan menjadi makanan hewan yang dipelihara dan mungkin hampir punah itu. Padahal, jika memang dia memiliki kepedulian akan sampah pribadinya, maka si ibu ini tidak perlu melemparkannya, tapi membawa sampah kita ke rumah dan mengatasinya sendiri, atau membuang sampah ke tempat yang telah disediakan di Taman Safari tersebut.

Karena sudah saatnya kita menerapkan pengelolaan sampah sendiri atau Personal Waste Management. Apa itu? Adalah sebuah keharusan untuk mengurangi sampah sendiri, berawal dari sampah rumah tangga, dimana kita di rumah harus bisa mengurangi sampah yang sampai di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) agar tidak menggunung dengan mengurai sampah sendiri, dimana kita harus memilah mana sampah organik yang bisa dijadikan kompos bagi bunga-bunga yang ditanam isteri dan anak di rumah. 

Mesin Pencacah Sampah dan Tempat-Tempat Sampah disusun rapi Ketika Sekolah Tatap Muka dibuka, SMA Negeri 13 Medan kembali siap untuk mengolah sampah sendiri. Dokpri

 

Lalu sampah-sampah sisa makanan dan daun-daun yang ada di sekitar rumah, dikumpulkan dalam satu wadah untuk dapat dijadikan kompos. Sementara botol-botol plastik dikumpulkan untuk bisa dijual kembali, sementara plastik-plastik bekas kantongan dikumpulkan juga untuk dirapikan dan dibuatkan dalam satu tempat yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak makanan binatang peliharaan. Kebetulan saya memelihara anjing sebagai penjaga rumah yang kini telah melahirkan anak, sehingga makanan anjing bisa dimasak dengan menggunakan kantongan-kantongan plastik ataupun bahan anorganik lainnya.

Pengelolaan sampah sejak dini sudah harus dilaksanakan sehingga slogan zero waste lifestyle bisa terwujud dengan melakukan pengelolaan sampah dari rumah atau biasa disebut dengan Waste Management Indonesia sehingga sampah-sampah dari rumah tangga tidak menumpuk dan menjadi persoalan besar di TPA. 

Tempat Pembuangan Sampah, Siswa harus dapat membuang sampahnya ke tempat sampah yang telah dibuatkan jenisnya, Sampah Anorganik, Organik dan Sampah B3. Dokpri

 

Namun ketika rumah tangga tidak lagi menjadi penyumbang sampah, bagaimana peran tukang produksi sampah lainnya seperti pabrik-pabrik makanan, minuman, farmasi, tekstil dan sebagainya yang nyata menghasilkan sampah?

Menurut Waste4Change yang dicetuskan oleh PT Greeneration Indonesia & Ecobali (PT Bumi Lestari Bali) tahun 2014, yang bergerak untuk membentuk perusahaan pengelolaan sampah yang memiliki misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, dengan strategi Perubahan Ekosistem Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab dengan Berlandaskan Kolaborasi dan Teknologi Menuju Penerapan Ekonomi Melingkar (Circular Economy) dan Indonesia Bebas Sampah, mendukung daur ulang sampah berlabel merek agar tidak disalahgunakan sesuai dengan yang diatur oleh Peraturan Pemerinta Indonesia No. 81 Tahun 2012 tentang Peran Produsen. Ada EPR Indonesia (ExtendedProducer Responsibility Indonesia) di sana, dimana Waste4Change menyediakan fasilitas sebagai berikut: (1) Sistem pengelolaan sampah yang komprehensif di lini distribusi; (2) Meningkatkan jumlah sampah yang dapat diproses melalui metode daur ulang; (3) Pengelolaan sampah yang bertanggung jawab untuk sampah residu (sampah yang sulit didaur ulang) tanpa mengirimnya ke TPA (berdasarkan permintaan).

Tempat Sampah harus dapat menjadi tempat penampungan sampah siswa agar siswa bisa membuang sampahnya dan sebisa mungkin meminimalisir sampah. Dokpri

 

Dengan visi Menjadi Pemimpin dalam Menyediakan Solusi Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab, Waste4Change memiliki banyak program dan layanan yang sangat membantu kita dalam upaya meminimalisir sampah kita ke TPA. Perusahaan ini membantu kita dalam mengelola sampah. Baik itu individu maupun perusahaan.

Walau saya sudah bisa mengelola sampah sendiri, dengan mengajarkan kebaikan yang dimulai dari rumah, dimana anak-anak kembali saya ajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, memasukkan sampah organik ke tempat sampah organik dan sampah plastik atau botol plastik ke tempat sampah anorganik, lalu memilah-milah sampah serta tetap menjaga kebersihan sekitar merupakan prioritas sehingga ketika dewasa mereka juga tau menjaga lingkungan dengan menjaga sampah mereka.

Sehingga Pendidikan Lingkungan Hidup itu tetap terwujud, walau sekarang di masa pandemi global ini, kita sebagai orang tua tetap mengajarkan anak-anak agar menjaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah dengan baik dengan program Waste4Change.

Personal Waste Management akan terwujud apabila dari keluarga itu ada kolaborasi apik untuk bersama-sama memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya. Gotong royong di rumah untuk membersihkan lingkungan, memilah sampah organik dan anorganik, sampah organik dijadikan kompos, sementara sampah anorganik, dilihat jenisnya, jika botol plastik dapat dijual kembali, sementara plastik-plastik dikumpulkan dan dijadikan bahan bakar untuk memasak nasi peliharaan adalah sebuah ide kecil, namun mampu menjadi pengelolaan sampah yang baik demi mengurangi jumlah sampah.

Apakah Anda tertarik menggunakan program Waste4Change

Hal-hal besar akan terwujud, jika kita sukses memulainya dari hal-hal kecil....sekian..


 

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Agus Oloan Naibaho"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates