Social Icons

Pages

Kamis, 20 Februari 2014

Kurikulum 2013 Diterapkan, Kami Mengajar Mata Pelajaran Apa?




“Jadi kita mengajar apa pak? Jika nantinya Sekolah kita menerapkan Kurikulum 2013? Katanya TIK sudah nga diajarkan lagi, diganti dengan Prakarya atau Mulok?”, itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu saya terima jika bertemu dan berpapasan dengan guru honor yang baru dinyatakan lulus K – 2 ini. Pertanyaan yang sejak setahun lalu, sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan akan merevisi Kurikulum KTSP dengan Kurikulum 2013 telah menghinggapi pikiran dan perasaanku. Pertanyaan yang selalu aku buang jauh-jauh mengingat sekolah kami belum terkena imbas penerapan Kurikulum 2013 yang dilakukan secara bertahap. Namun seiring berjalannya waktu dan wanti-wanti dari Kepala Sekolah saat breafing yang selalu menekankan bahwa Sekolah kami mulai semester baru akan menerapkan Kurikulum 2013 dengan catatan TIK diubah ke mata pelajaran Prakarya, Mulok dan lain-lain sebagainya yang membinbungkan para Guru TIK setanah air. TIK bukan lagi mata pelajaran tersendiri, tetapi telah terintegrasi ke seluruh mata pelajaran, demikian bunyi penjelasan dari beberapa Presenter, penyaji saat ada Presentasi ataupun saat ada Workshop tentang Kurikulum 2013 yang sering saya ikuti. Mata pelajaran TIK bukan lagi mata pelajaran yang berdiri sendiri, bukan lagi mata pelajaran yang wajib diikuti oleh peserta didik, mata pelajaran yang mengidentitaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang peduli dan mengikuti perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
TIK bukan lagi mata pelajaran yang dicintai dan digandrungi oleh peserta didik karena dengan belajar TIK mereka tahu dan mampu mengoperasikan Komputer, mereka tahu akan Undang-Undang Hak Cipta (HAKI), tahu K3 dalam Mengoperasikan Komputer, tahu minimal mengoperasikan aplikasi Microsoft Office, Internet dan belajar mengenal Teknologi dengan baik dan benar. Pelajaran TIK yang telah mencetak ribuan bahkan jutaan putra-putri terbaik Indonesia yang mampu mencari pekerjaan sendiri, mampu berdiri sendiri dengan bekerja di perusahaan-perusahaan luar negeri maupun dalam negeri, memiliki keahlian dalam mengoperasikan computer walau hanya dengan bermodalkan ijazah SMAnya. Kurang lebih enam tahun, mata pelajaran TIK bertahan, kini riwayat mata pelajaran yang berhasil memberikan mata pencaharian bagi putra-putri terbaik bangsa dari jaman ke jaman ini sekarang di ujung tanduk. Apalagi jika sekolah tersebut tidak menerapkan Mulok atau Prakarnyanya dengan mata pelajaran berbau Komputer, namun diganti dengan prakarya yang lain. Guru-guru TIKnya mau mengajar apa yah?
Menurut guru honor yang baru lulus K – 2 tersebut, karena disamping mengajar di tempat saya ditempatkan, dia juga mengajar mata pelajaran yang sama (TIK) di SMA N 1 yang kebetulan sudah menerapkan Kurikulum 2013 mengatakan bahwa disana TIK sudah menjadi Prakarya, dengan materi ajarnya siswa diberikan satu materi pelajaran yang mampu menghasilkan karya nyata dari suatu aplikasi yang dipelajari. Misalnya: materinya membuat animasi 3D, siswa harus mampu membuat karnya nyata dari animasi yang dipelajari. Kegiatan yang sesungguhnya sama dengan yang saya terapkan selama ini. Pelajaran TIK memang tidak terlepas dari hasil karya nyata dan kita memang berhadapan langsung (face to face) dengan computer, karena computer itu bersifat GUI (Graphic User Interface) dan apa yang kita pelajari tersebut harus dapat langsung dipraktekkan, jika tidak semuanya omong kosong. It’s OK jika sekolah-sekolah yang ada di sumut tetap melaksanakan pembelajaran Komputer dalam mata pelajaran Prakarya atau Muloknya, namun bagaimana jika Prakarya atau Muloknya diganti dengan Mulok mata pelajaran lain, misalnya: pembuatan kompos, pembuatan sabun colek, dll yang tidak ada kaitannya dengan Komputer? Ini yang jadi masalah, karena guru-guru yang mengajar Komputer jadi guru apa? Membingungkan memang.
Namun, satu hal yang membuat saya tetap semangat dalam mengajarkan mata pelajaran TIK ini, bahwa Menteri Pendidikan dan kebudayaan mengatakan bahwa “Tidak ada penghapusan Mata Pelajaran, yang ada hanya pengintegrasian mata pelajaran, untuk SD, IPA dan IPS di integrasikan ke semua mata pelajaran!”, begitu komentar M. Nuh. Namun, TIK kenapa di SMA dan SMP dihapuskan? Mengingat pentingnya mata pelajaran ini sebagai hasil dari perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan TIK sebagai pengantar dalam penyampaian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tersebut oleh Guru sebagai pendidik ke peserta didik dan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar. Tanpa belajar TIK yang benar dan baik maka niscaya kita mempunyai generasi penerus bangsa yang mampu menghasilkan karya-karya sendiri, karya yang original dan karya yang dapat menginspirasi kemajuan bangsa Indonesia.
Sudah banyak contoh-contoh kasus, karena kita kita tidak belajar TIK sejak adanya dunia pendidikan dan sejak TIK diremehkan menjadi mata pelajaran yang tidak penting alias pelengkap penderita, misalnya:
1. Kasus maraknya Plagiarisme. Kita tentunya ingat banyaknya kasus plagiat, itu karena oknum-oknum tertentu tidak menghargai Karya orang lain, tidak mau belajar Undang-Undang IT, Undang-Undang Hak Cipta atau IPR (Intelektual Property Right).
2. Kurangnya pemahaman akan pelajaran TIK, sehingga orang-orang tertentu mengambil langkah cepat dengan memberikan ‘proyek’ atau pekerjaan kepada orang-orang yang mengaku ahli dalam bidang IT, padahal belum tentu, misalnya: meminta seseorang untuk menjadi ghost writer, yang menuliskan tentang sesuatu hal atau topic dengan imbalan yang besar. Juga, meminta seseorang yang benar-benar memang ahli dalam membuat sebuah program untuk meluluskan Tugas Akhirnya, dan berbagai kasus lainnya. Yang lebih parah lagi, masuk jurusan computer, tapi karena tidak memiliki dasar yang kuat saat belajar di jenjang SMP atau SMA, maka tidak bisa tamat dengan cepat saat kuliah.
3. Masih ingat dengan kasus Bu Ani Yudhoyono yang marah ketika aktivitasnya yang suka main Instagram dan mengupload foto hasil jepretan beliau di komentari oleh seorang followernya? Masih segar bukan? Ketika itu Bu Ani Yudhoyono tanpa pikir panjang langsung ngetik kalimat “ibu Joko Widodo (Jokowi) dan ibu Ahok kemana ya? Kok saya yang dimarahi…!!”, dengan nada kesalnya karena usut punya usut ternyata seorang anak SMA berkomentar seperti ini “Ibu..ini banjir, kok main instagram..?” ini juga menjadi sorotan, menggunakan Sosial Media tanpa kesabaran, kesadaran dan keiklasan serta tanpa dibekali kemampuan menerima bully, dan belajar konsep IT dengan baik, maka kita akan menjadi korban dari penggunaan perangkat IT itu sendiri.
Jadi seharusnya bagaimana agar TIK ini mampu menjadi pelajaran yang meningkatkan kemampuan peserta didik, Sumber Daya Manusia Indonesia? Seharusnya TIK ini tidak dihapuskan, tetapi diberikan materi yang lebih dalam bagi peserta didik sesuai dengan jenjang pendidikannya. Jika sudah SMA, materi itu sudah harus berupa pembuatan program, graphic desain, animasi dan lain-lain, bukan tentang Ms. Office lagi. Semoga, pemangku kepentingan di dunia pendidikan mampu mencarikan solusi yang terbaik atas dilema ini. Semoga pelajaran TIK yang bagaikan ‘buah simalakama’ dapat eksis ke depannya, bukannya membuat masalah di kemudian hari apabila di cabut dan membuat kebahagian serta kemajuan apabila dibuat terobosan-terobosan baru. Semoga TIK adalah mata pelajaran yang tetap aku ajarkan, paling tidak, sekolahku tetap mengajarkan mata pelajaran Komputer….!!!
Medan, 19 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates