Social Icons

Pages

Minggu, 12 Januari 2014

MYOB



Dalam jajak pendapat Tempo.co bulan Oktober (2013) lalu, terungkap bahwa 87% responden menjawab “ya” atas pertanyaan: “Apakah menurut Anda, selama satu tahun pemerintahan Jokowi - Ahok telah berhasil mengubah Jakarta?” Artinya, setelah setahun Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta, penduduk Jakarta dan dunia mengalami sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Sesungguhnya, apakah yang berbeda itu? Dan apakah memang Jakarta telah berubah dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya setelah Sutiyoso dan Fauzi Wibowo memimpin Jakarta puluhan tahun sebelumnya?
Sesungguhnya, kalau Anda sedang ke Jakarta, perubahan gerak dan fisik Jakarta masih belum berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Memang Para monyet-monyet acrobat yang di training menjadi TKM alias Tenaga Kerja Monyet pencari duit dengan cara meminta-minta di pinggiran jalanan Jakarta, telah ditertibkan oleh Ahok yang memiliki “peri-kemonyetan” yang tinggi dengan akibatnya laju kendaraan menjadi lancer karena Para sopir dan penumpangnya tidak lagi memperlambat kendaraan untuk menonton atraksi Para monyet yang ujung-ujungnya mengulurkan tangan (monyet) meminta duit untuk Para boss-monyet yang telah melatih mereka (Para monyet) menjadi sangat mirip manusia Indonesia peminta-minta. Pak Lulung juga, seorang “lurah Tanah Abang” dan salah seorang Ketua DPRD Jakarta, berhasil dijinakkan Jokowi dan Ahok sehingga arus lalu lintas di Tanah Abang sudah menjadi sangat-sangat lancar karena Para pedagang kaki lima dan kaki enam (Para preman peliharaan Haji Lulung) telah di dorong masuk ke Blok G yang dulunya sarang penyamun dan sekarang berubah menjadi sarang duit untuk banyak orang. Soal banjir? Jakarta tidak pernah bebas banjir dari zaman doeloe sampai zaman sekarang, sejak masa Daendels menjadi boss Batavia sampai masa Agnes Monica mengalahkan popularitas Justin Beiber. Dan dipastikan, sampai Jokowi dan Ahok pension kelak, Jakarta masih tetap rawan banjir dan rawan tenggelam, kecuali jika Para koruptor negeri ini bisa di penjarakan semua dan anggaran penanganan banjir dapat digunakan dengan baik.
Jadi, apanya yang berubah? Yang sesungguhnya berubah adalah keyakinan orang. Setelah Ali Sadikin tidak lagi menjadi Gubernur Jakarta dan Hoegeng disuruh turun dari Kepala Polisi karena kejujurannya, maka rakyat Indonesia mengalami masa romantisme Para pejabat yang sungguh “banyak cakap” - seperti ucapan RD Dr. Friez R. Tambunan. “Banyak cakapnya” Para pemimpin Indonesia ini terlihat juga dengan seleranya membuat “pakta integritas” seperti yang dicontohkan oleh SBY, sang presiden, ketika menasehati Para pengurus partai democrat, agar taat hukum, bermoral dan beretika, berbahasa sopan-santun, dan tidak berkorupsi berjamaah.
Jadi, meski Jakarta belum berubah 25% pun, tetapi “pikiran” banyak orang mulai berubah. Perubahannya adalah adanya rasa optimism akan perubahan yang lebih besar dan lebih baik di masa depan. Asal saja Jokowi dan Ahok tidak ditembak-mati oleh Para “pereman dan perewoman” yang bisa saja disewa oleh orang-orang yang tidak menginginkan Jokowi dan Ahok mengubah Jakarta dan Indonesia ke arah yang lebih baik. Selain populer sebagai pemimpin yang penuh integrasi, Jokowi pun sudah menjadi “presiden” RI di benak dan mata sebahagian besar rakyat Indonesia, Ahok pun sudah menjadi penerus Jokowi untuk memimpin Jakarta. Ini juga yang membuat Aburizal Bakrie, Prabowo, Megawati, JK, Dahlan Iskan, Wiranto dan Mahfud MD bagaikan anjing menggonggong, Jokowi tetap lewat tanpa billboard, tanpa pamer istri memberikan sumbangan ke panti asuhan, dan tanpa topi-peci yang memperlihatkan imannya sudah setinggi Dolok Pusuk Buhit dan tanpa lawak-lawak ala vickinisasi.
Jokowi dan Ahok adalah pemimpin yang dapat membedakan mana profesi dan mana bisnis. Profesi mereka adalah tetap “servus servorum” yaitu pemuka masyarakat yang disumpah untuk menjadi “abdi-dalem” rakyat, dan bekerja untuk memuaskan rakyat semesta. Pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang membuat anak buahnya bisa berpikiran cerah, terang, futuristic, enak, sehingga merasa nyaman dan aman. Sedangkan bisnis mereka adalah menciptakan perubahan yang lebih baik: pertama-tama dalam pikiran dan kemudian mewujud ke actus - perbuatan. Pemimpin seperti Jokowi dan Ahok menyadari bahwa mereka ber-mandat “mengabdi” kepentingan masyarakat, tetapi tugas utamanya adalah membawa perubahan dan bukan melantumkan bait-bait kata-kata indah penuh romantisme yang membuat Para seniman puisi senang tetapi rakyat berang!
Menurut Romo Friez, kunci kekuatan Jokowi dan Ahok adalah MYOB! Mind Your Own Busines - ini adalah pesan sistem akuntansi keuangan yang diserukan untuk semua pemangku kepentingan umum untuk menyadari untuk apa sesungguhnya seseorang dipanggil, dilantik, diutus, diberi jabatan, diberi tongkat komando, dan diberi duit untuk diurus dan dipakai dengan berguna. Hendaknya semua tahu apa profesinya, dan tahu apa bisnisnya: untuk apa dia lahir dan hidup di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates